Wednesday, July 13, 2016

Disiplin Kerja

Saya mencoba mencermati perilaku teman-teman kantor saya dalam bekerja, khususnya terkait jam efektif bekerja di kantor yang sesuai aturan seharusnya adalah 8 jam, namun katanya di instansi pemerintah resminya hanya 7 jam.

Saya cermati, ada beberapa tipe:
  1. Datang tepat waktu (atau sedikit terlambat), simpan tas, menyalakan computer, klak-klik sebentar, kemudian keluar ruangan (entah sarapan atau apa), kembali lagi 30-60 menit kemudian, pulang on time. 
  2. Datang tepat waktu, bekerja selama beberapa menit, keluar beli sarapan (yang tipe ini mereka ijin dulu ke atasan), tapi baru kembali 30-60 menit kemudian, sore-sore lembur. 
  3. Datang terlambat, klak-klik sebentar, lalu keluar, datang kembali 15-30 menit kemudian, pulang on time. 
  4. Datang terlambat, langsung bekerja, pulang on time. 
  5. Datang sangat awal, langsung bekerja, pulang on time. 
  6. Datang sangat awal, langsung bekerja, sore-sore lembur. 
Yang saya herankan lagi ada yang pekerjaannya tidak terkait bagian lain, tapi sering sekali mondar-mandir keluar ruangan seolah sedang mengurus ini itu dengan bagian lain.

Waktu absen kantor masih dikelola sendiri, saya sering amati jam kerja teman-teman saya ini. Ternyata banyak yang jam kerjanya kurang dari 8 jam. Artinya sudah terlambat, pulang tetap sesuai waktunya. Tapi sebetulnya banyak yang seperti contoh di atas. Jam kerja 8 jam, tapi sering keluar ruangan untuk alasan yang tidak terkait pekerjaan.

Saat ini memang di kantor belum ada sistem reward and punishment terkait jam kerja ini. Jadi semua orang santai bekerja sesuai keinginannya masing-masing. Bahkan ada yang urusan Pribadi pun dikerjakan di jam kantor, tanpa mau repot-repot mengganti jam yang dipakainya dengan lembur.

Contoh lain, ada yang bekerja sambil berjualan. Kadang datang siang karena harus mengambil barang jualannya dulu, kemudian siang-siang kirim barang ke sana ke mari sehingga jam kerja pun berkurang. Selama jam kerja yang digunakan itu diganti, masih ok lah. Tapi seringkali saat sudah waktunya pulang, mereka langsung pulang begitu saja.

Saya Pribadi sering menganalogikan pengurangan jam kerja ini dengan istilah “Korupsi”. Bayangkan kita bekerja 8 jam sehari, dibayar sejumlah X rupiah. Kalau gaji yang kita terima setiap bulannya tetap sama, tapi kita korupsi waktu, apa bedanya dengan kita korupsi uang? Terlepas dari dosa atau tidak. Tapi kita seringkali menuntut hak lebih tapi melupakan kewajiban kita sebagai pegawai.

Tahun depan kabarnya ada rencana untuk mengimplementasikan sistem reward and punishment terkait jam kerja karyawan ini. Kita lihat nanti apakah ada perubahan kalau sudah diberlakukan sistemnya.

Tuesday, July 12, 2016

Mencoba Lebih Bersabar dalam Menghadapi Masalah

Liburan lebaran sudah lewat, tapi di akhir masa-masa liburan saya merasa stress dan bukan merasa rileks. Memang akan terasa bedanya kalau kita liburan di rumah dan liburan di luar rumah (tamasya). Kalau di rumah, masalah yang dihadapi sama dengan hari-hari biasanya. Tapi kalau di luar rumah, karena suasananya berbeda, minimal cara menghadapi masalahnya pun berbeda. Yang pasti masalah yang dihadapi tidak akan jauh dari masalah anak-anak. Anak2 yang rewel, susah makan, susah ini, susah itu. Dan karena liburannya di rumah, dekat dengan laptop dan flash disk yang isinya kerjaan kantor, urusan kantor pun tidak bisa lepas dari pikiran di kepala. Alhasil liburan bukannya rileks malah makin stress karena mengingat masa liburan yang semakin pendek dan akan segera berakhir.

Karena tahap stress sudah mulai meningkat (ditandai dengan gatal2 di badan-saya kalau stress memang begitu), saya mencoba mencari solusi yaitu dengan mencoba untuk lebih bersabar dalam menghadapi masalah.

Hal pertama terkait anak2. Terutama anak pertama yang sangat sulit untuk ditolak apabila sudah punya keinginan. Saya dan dia akhirnya sepakat membuat sebuah resolusi. Semacam perjanjian supaya dia mau melakukan perubahan. Setiap dia melanggar, dia harus membayar denda. Dan kalau dia tidak melanggar selama beberapa hari, maka dia pun saya beri reward (berupa uang). Uji coba selama 2 hari cukup berhasil, entah besok atau lusa. Tapi karena minggu depan dia sudah masuk ke Sekolah Dasar, semoga dengan adanya resolusi ini bisa membuat dia jadi lebih baik dan bisa menyesuaikan dengan ritme belajar di SD. Kalaupun dia melanggar, saya coba untuk menghadapi dengan lebih sabar.

OK masalah pertama selesai. Masalah lain, menghadapi bawahan di kantor. Memang saya jarang menegur kalau tidak terlalu keterlaluan (untuk saat ini), tapi ada kalanya saya tegur dengan keras. Harapannya mereka bisa sadar dengan sendirinya. Namun sepertinya perlu juga ada resolusi ke depannya, semacam perjanjian supaya semua bekerja dengan baik. Tidak terus menerus membuat kesalahan, mumpung baru selesai maaf-maafan.

Satu hal lagi, masalah rumah tangga. Tapi bukan untuk konsumsi di sini. Tapi membuat semacam perjanjian untuk kebaikan mungkin tidak ada salahnya.. hehe... We’ll see…

Friday, February 19, 2016

Kalau Gak Ada Kerjaan Ngapain Lembur....

Setelah sekian minggu saya selalu lembur setiap hari di kantor, sepertinya para tenaga pendukung mulai terganggu dengan kebiasaan saya tersebut. Bukan berarti mereka sebelumnya tidak pernah pulang malam, dulu sering. Tapi sejak kabag yang lama pindah, jadi jarang orang yang lembur sampai begitu malam. Nah, saya memulai lagi kebiasaan lembur ini, ditemani 1-2 teman. tapi paling malam hanya sampai pk. 20.00 saja. Tiba-tiba kemarin pagi salah seorang sopir kantor, bertanya "Din, lembur terus ya sekarang?". Lalu teman yang lain tanya "Kenapa lembur terus? Memang gak bisa dibesokin? atau dibagi ke bawahan?". Lalu saya jawab simpel saja, iya. Kemudian saya jelaskan bla..bla..bla.. yang terlintas saat itu. Kadang saya juga bingung ini memang saya nggak bisa bagi waktu, atau saya gak bisa bagi kerjaan, atau memang pekerjaan saya sudah sangat overload. Intinya... kalau nggak ada kerjaan juga saya ngga mau lembur...

Thursday, April 04, 2013

Not have any idea to write something.....

Mungkin hidup saya saat ini terlalu sibuk memikirkan pekerjaan, anak, dan kehamilan yang kedua. Sehingga tidak ada ide apapun di benak saya untuk menulis sesuatu di sini. Membaca blog teman yang menceritakan pengalamannya melahirkan dan mengurus anak membuat saya iri dengan sepinya isi blog saya belakangan ini. Padahal banyak yang bisa saya ceritakan dari pengalaman hidup saya mempunyai anak yang pertama.... mungkin saat itu saya terlalu sedih membayangkan virus yang mengendap di tubuh anak saya jadi masa-masa itu terlewat begitu saja tanpa tertulis banyak di sini.... belum lagi kejadian2 sentimentil lainnya yang saya alami belakangan ini... terlalu banyak menguras pikiran, tenaga dan air mata....

Mungkin lain kali saya tulis lagi kisah2 saya di sini... tapi tidak sekarang....

Thursday, November 01, 2012

Bolehkah Pegawai Perguruan Tinggi eks BHMN (non PNS) menjadi pejabat di Perguruan Tinggi Pemerintah (PTP)?

Kemarin kami (ITB-red) mengadakan seminar yang dihadiri oleh seorang wakil dari kantor pemerintah dan minta dicap SPPD. Lalu SPPD tersebut saya mintakan kepada Kabag di kantor saya yang non PNS dengan menyertakan Nopeg (bukan NIP karena ybs bukan PNS). Begitu SPPD tsb saya serahkan kepada bapak PNS tersebut, saya dimarahi karena saya tidak memberikan NIP dari Kabag saya melainkan hanya Nopeg dari Kabag saya yang memang non PNS. Beliau tidak mau SPPD-nya dittd oleh pejabat non PNS karena menurutnya nanti SPPDnya tidak akan diterima oleh bagian keuangan, dan apabila suatu saat diperiksa oleh BPK dan ketahuan maka SPPDnya dianggap tidak sah. Saya sudah menjelaskan bahwa sebelum menjadi PTP, status ITB adalah sebagai BHMN sehingga dalam beberapa tahun terakhir ini tidak lagi merekrut PNS untuk menjadi Pegawai Non Akademik (hanya Dosen saja yang tetap PNS). Pegawai Non Akademik tetap direkrut tapi diberi status sebagai Pegawai ITB BHMN. Tapi beliau tetap keukeuh dan bertanya, kenapa ITB masih mengangkat Kabag (Pejabat-red) yang non PNS? Seharusnya ITB (sejak berstatus PTP-red) sudah tidak boleh lagi mengangkat pejabat yang non PNS dan semua harus PNS. Dan beliau berpesan untuk sampaikan kepada pimpinan di ITB supaya mengganti semua pejabat non PNS nya dengan pegawai PNS. Jadi bagaimanakah nasib kami sebagai eks pegawai ITB BHMN yang notabene saat ini menjadi tulang punggung di ITB? Jika tidak bisa diangkat menjadi PNS dan tidak boleh memegang jabatan apapun, lalu janji apakah yang akan ditawarkan sehingga motivasi kami tetap tinggi untuk tetap mengabdi? Pertanyaan ini tidak hanya ditujukan kepada pimpinan ITB, tapi juga kepada pemerintah yang telah mengubah ITB dari PTN menjadi BHMN dan diubah lagi menjadi PTP.