Search This Blog

Loading...

Wednesday, May 25, 2011

Kalo gak punya uang jangan masuk ITB...

Duh... miris banget denger kata2 itu... dan mungkin banyak orang bertanya2, apa memang ITB pantas menetapkan harga setinggi itu (55 juta per mahasiswa baru non SBM, dan 80 juta utk SBM). Tapi tentu saja ITB tidak sembarangan saja menetapkan angka tersebut. Pasti ada hitung2an tertentu sehingga angka tsb dapat dikatakan reasonable. Dan juga ada alternatif skema pembiayaan lain supaya anak2 pintar yang kurang mampu bisa berkuliah di ITB melalui program subsidi dan beasiswa.
Walaupun saya cukup awam mengenai kebijakan2 di ITB, tapi saya menilai wajar ITB menyatakan bahwa perlu biaya sangat mahal utk bisa menjadi lulusan ITB. Kenapa? Karena kualitas pendidikan di ITB berbeda cukup jauh dgn universitas2 lain di Indonesia. Mungkin orang2 yg sangat awam tidak akan concern mengenai peringkat universitas di Indonesia di tingkat internasional. Tapi ITB telah mentargetkan untuk menjadi World Class University sehingga ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi. Diantaranya adalah banyaknya jumlah dosen yang sudah bergelar Guru Besar atau Profesor, sehingga jangan heran kalau di ITB banyak dosen2 yang usianya relatif muda tapi sudah bergelar Profesor. Kemudian, banyaknya program dan dana riset yang dilakukan oleh dosen, peneliti dan mahasiswa ITB. Jadi tugas dosen bukan hanya mengajar, tapi juga harus melakukan riset dan harus selalu uptodate terhadap perkembangan bidangnya itu di dunia. Selain itu, agar hasil riset dapat dibaca orang maka harus dituliskan dalam sebuah artikel ilmiah dan disubmit ke jurnal internasional yang direview oleh pakar2 bidang tsb di dunia. Artinya, originalitas, keterbaruan dan kontribusi pada sainsnya dinilai, selain bahasanya juga. Dan jangan harap tulisan hasil plagiat bisa diterbitkan di jurnal internasional.
Kualitas artikel ilmiah dosen2 ITB pun dinilai dengan melihat jumlah sitasi dari artikel tsb, yaitu jumlah artikel lain yang menjadikan artikel tsb sebagai referensi. Untuk menilai kualitas dari dosen, maka jumlah sitasi dari setiap dosen dihitung setiap tahun utk dilihat perkembangannya. Sumber data sitasi diperoleh dari website Scopus yang dilanggan ITB sebesar kurang lebih 400jt per tahun (dibiayai oleh sponsor dari mitra ITB). Untuk mendukung mahasiswa dan dosen ITB mengupdate dirinya, ITB juga berlangganan e-journal dari penerbit2 berkualitas di dunia yang dapat diakses oleh seluruh mahasiswa di perpustakaan. Untuk mengenalkan istilah2 ilmiah dalam bahasa inggris, buku2 kuliah pun banyak menggunakan buku terbitan asing. Selain itu, dosen pun harus ikut menyelesaikan permasalahan bangsa melalui program pengabdian kepada masyarakat termasuk juga utk berkolaborasi dengan industri melalui kegiatan konsultansi maupun kerjasama riset. Walaupun dosen disibukkan dengan kegiatan penelitian dan pengabdian, tugas sebagai pengajar tetap harus dilaksanakan sebagai tugas utama. Kinerja dosen dinilai juga melalui kehadirannya di kelas. Dan di setiap akhir kuliah, mahasiswa akan diminta mengisi kuesioner utk menilai tingkat kepuasan mahasiswa atas kinerja dosen yang mengajarnya.
Di luar itu semua, pengelolaan administrasi akademik, perencanaan, keuangan, penelitian dan pengabdian masyarakat telah dilakukan secara online. Didukung oleh staf2 ITB yang telah ditraining untuk memberikan layanan terbaik. Dan juga ITB memiliki sumberdaya dosen2 terbaik sehingga diharapkan mhs2 yg masuk ITB adalah mhs yg memang berkomitmen tinggi utk menjadi lulusan terbaik.
Dibalik itu semua, msh banyak kekurangan yang perlu diperbaiki di sana-sini. Dan itu yg harus menjadi acuan ke depan agar menjadi lebih baik lagi. Yang pasti, biaya pendidikan memang mahal, dan pemerintah lah yang harus memikirkan hal ini supaya masyarakat bisa mendapatkan pendidikan yang murah dan berkualitas....

0 komentar: