Ini hasil pengalaman sehari-hari, ditambah dari hasil mendengarkan presentasi Prof.Dr. Ofyar Z.A. Tamin di lokakarya setahun yang lalu.. ditambah mendengarkan obrolan sopir angkot, dan lain2... membuat saya berpikir bahwa harus ada pembuat kebijakan yang mulai bisa "memaksa" supaya masyarakat mau ikut kebijakan pemerintah tersebut sehingga kemacetan dapat teratasi (khususnya di kota bandung).
Sekarang ini ada indikasi bahwa kemacetan itu harus diatasi dengan rekayasa jalan, dibangun fly over, dll supaya banyak jalan alternatif sehingga pengguna kendaraan tidak numpuk di satu jalur tertentu saja, atau perbaikan fasilitas transportasi publik seperti dibuat busway, monorail, dll. Intinya lebih ke transportasi massa dan peningkatan fasilitas transportasi. Ada lagi alternatif dengan membangun apartemen di tengah2 kota sehingga harapannya pengguna kendaraan berkurang krn mereka memiliki rumah yang dekat dengan kantor.
Oke, kurang lebih analisa itu masuk akal. Sangat masuk akal malah. Tapi kenyataan yang terjadi, rekayasa jalan sudah dibuat, fly over sudah dibangun, tapi tetap saja jalanan macet karena lebar jalan tetap (tidak ada pelebaran) sedangkan jumlah kendaraan meningkat tajam. Transportasi publik seperti busway sdh membantu banyak, tapi khusus di bandung sepertinya blm efektif krn hanya menjangkau wilayah tertentu saja (entah sdh jalan atau blm?). Apartemen di tengah kota, sudah dibangun beberapa tapi harganya mahal dan tidak terjangkau. Jadi artinya solusi2 itu belum berhasil jg mengatasi kemacetan kota.
Ditambah lagi dengan kenaikan harga BBM secara periodik selama beberapa tahun belakangan ini yang membuat ongkos transportasi publik seperti angkot menjadi sangat mahal sehingga orang-orang cenderung beralih ke motor yang penggunaan bahan bakarnya sangat ekonomis. Alhasil, kini jalanan penuh dengan orang berkendara motor. Dan motor ini yang seringkali membuat jalanan menjadi sangat tidak teratur. Lihat saja perilaku pengendara motor yang kadang memaksakan diri utk naik trotoar (mengambil jalur pejalan kaki), menyusul kendaraan di depan sambil mengambil jalur pengendara yang berlawanan arah, ngebut di jalan, tidak pakai helm, dll.
Tapi saya tidak menyalahkan pengendara motor. Karena hasil pengalaman saya melihat lokasi-lokasi perumahan, ternyata sekarang ini banyak perumahan yang lokasinya tidak terjangkau oleh kendaraan umum sehingga mau tidak mau si pemilik rumah 'terpaksa' harus memiliki kendaraan sendiri utk menjangkau lokasi sekolah/tempat bekerja. Lihat saja daerah ujung berung, jatihandap, cimindi, cimahi, dll. Di sana banyak komplek2 perumahan yang tidak terjangkau oleh angkot. Kendaraan umum yang ada mungkin hanya ojek yang ongkosnya pun saat ini sangat mahal. Jadi kalau tdk ada angkot, ojek juga mahal, mau beli mobil tidak sanggup, ya sudah beli motor saja. DP 500rb juga sudah bisa punya motor, sisanya nyicil.
Jadi kesimpulan saya mengenai penyebab macet ini diantaranya adalah:
1. Harga perumahan/apartemen di tengah kota sangat mahal (bahkan dapat dikatakan tidak masuk akal untuk pekerja dengan penghasilan mengikuti standar UMR hanya 1.4jt per bulan), sehingga masyarakat memilih utk membeli rumah di daerah "pinggiran" kota yang harganya lebih terjangkau
2. Transportasi publik tidak menjangkau daerah2 perumahan baru sehingga masyarakat memilih utk membeli kendaraan sendiri
3. Lebar jalan-jalan di kota bandung sangat kecil, sehingga tidak sanggup menampung volume kendaraan yang ada
4. Harga BBM melambung tinggi sehingga ongkos transportasi publik menjadi sangat mahal
Solusi yang diusulkan:
1. Dibangun apartemen/rumah bersubsidi bersertifikat hak milik yang dapat terjangkau oleh masyarakat kelas menengah ke bawah dengan penghasilan di bawah 4 jt/bln.
2. Peningkatan fasilitas transportasi publik murah yang menjangkau seluruh wilayah perumahan, yang ongkosnya ditetapkan oleh pemerintah dan tidak terpengaruh oleh naik turunnya harga BBM.
3. Diadakan proyek pelebaran jalan di wilayah2 padat penduduk
Keuntungan:
1. Rumah dekat kantor, jadi tidak perlu berkendara utk sampai di kantor
2. Kalaupun rumah jauh dari kantor, ada kendaraan umum yang ongkosnya murah
3. Jika terpaksa rumah jauh dan menggunakan kendaraan sendiri, setidaknya jalan sudah lebar sehingga tidak terlalu padat di jalan
Jadi, skr tugas siapa yang dapat membuat agar ada rusunami murah, angkot murah dan ada di mana2, serta jalan yang lebar? tentu saja pemerintah.. so.. kita tunggu pemerintah melakukan actionnya...
Lumpia Rasa Mangga ala Chef @sheggario
1 hour ago

0 komentar:
Post a Comment